Dari ratusan naskah yang melewati meja penyuntingan, kesalahan sitasi cenderung berulang pada pola yang sama. Lima di antaranya dapat Anda periksa sendiri sebelum mengirim naskah.
Sitasi yang berantakan jarang menggagalkan kelayakan naskah, tetapi hampir selalu menambah satu putaran revisi. Berikut pola yang paling sering kami jumpai.
1. Kutipan dalam teks tidak ada di daftar pustaka
Ini kesalahan nomor satu, biasanya muncul karena naskah disunting berkali-kali dan sebagian rujukan terhapus. Periksa dengan mencocokkan satu per satu, atau gunakan pengelola rujukan sejak awal penulisan.
2. Daftar pustaka memuat sumber yang tidak pernah dikutip
Kebalikannya juga sering terjadi. Daftar pustaka bukan daftar bacaan penulis, melainkan daftar sumber yang benar-benar dirujuk di dalam teks.
3. Gaya sitasi tercampur
Satu naskah memakai APA pada bab awal dan gaya nomor pada bab akhir. Biasanya ini terjadi pada naskah yang ditulis beberapa orang. Sepakati satu gaya sejak awal dan sebutkan pada catatan penulis.
4. Mengutip dari kutipan tanpa menyebutkan
Bila Anda membaca pendapat A di dalam tulisan B, sumbernya adalah B — kecuali Anda memang membaca A secara langsung. Menyebutkan A saja membuat rantai rujukan menjadi tidak dapat ditelusuri.
5. Rujukan tanpa data terbit yang lengkap
Nama penulis dan judul tanpa tahun, penerbit, atau tautan yang stabil membuat pembaca kesulitan menelusuri sumber. Untuk sumber daring, cantumkan tanggal akses.
Memeriksa lima hal ini sebelum mengirim naskah biasanya memangkas satu putaran revisi penuh.